Indonesian 1st Movie
Film cerita pertama Indonesia adalah Loetoeng Kasaroeng (1926). Masih bisu. Legenda Jawa Barat itu difilmkan ulang, Lutung Kasarung (1952) yang sudah bicara dan Lutung Kasarung (1983) yang telah berwarna. Pembicaraan ihwal ketiga film itu harus mencantumkan tahun produksi agar jelas film mana yang dimaksud. Hal serupa bisa dikatakan dengan Si Pitoeng (1931) yang sudah bicara dan Si Pitung (1970) yang telah berwarna.
Jadi, tak bisa diterapkan anjuran Salomo Simanungkalit di pojok ini dua minggu lalu bahwa ”kita tulis sejalan dengan ejaan yang berlaku” dalam kolomnya: Soeharto atau Suharto?
Loetoeng Kasaroeng produksi 1926 dan Lutung Kasarung keluaran 1952 dan 1983 telah diabadikan dalam buku Katalog Film Indonesia 1926-1995 terbitan Grafiasri Mukti (1995) maupun Katalog Film Indonesia 1926-2005 terbitan Nalar (2005). Kedua buku itu karya wartawan Kompas JB Kristanto.
Contoh lain adalah film pertama Indonesia yang terpilih sebagai film terbaik internasional. Karya Asrul Sani yang memenangi Festival Film Asia (Pasifik) pada 1970 itu tetap saja ditulis sebagai Apa Jang Kau Tjari, Palupi? Jadi, Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang berlaku mulai 17 Agustus 1972 itu tak laku di dunia film karena judul film harus ditulis sesuai dengan ejaan yang berlaku saat film itu dibikin. Jadi, bukan Apa Yang Kau Cari, Palupi?
Film Indonesia pertama yang laris adalah Terang Boelan (1937), yang juga melahirkan pasangan romantis pertama, Roekiah-Rd Mochtar. Biar ceritanya berbeda, film dengan judul yang sama terbit pula pada tahun 1950. Judul itu, Terang Bulan, menerapkan Ejaan Suwandi yang antara lain mengubah oe jadi u mulai tahun 1947. Namun, dalam buku film yang digarap JB Kristanto itu, pendukung Terang Boelan adalah Roekiah, bukan Rukiah.
Selain Loetoeng Kasaroeng/ Lutung Kasarung dan Si Pitoeng/Si Pitung, juga bisa dikatakan tentang Boenga Roos dari Tjikembang (1931) yang dibikin ulang pada 1974, Bunga Roos dari Cikembang. Atau Airmata Iboe (1941) yang muncul lagi pada 1957, Airmata Ibu. Biar ceritanya tak sama, ada Si Pintjang (1951) dan Si Pincang (1979).
Jalan pikiran semacam itu seakan dipegang oleh Sjuman Djaya (1933-1985), sutradara yang menyadur novel Aman ke film Si Doel Anak Betawi (1973) dan kemudian menyambungkannya ke Si Doel Anak Modern (1976). Mempertahankan Si Doel bukan cuma mengenang saat ”lahir” tokoh anak Betawi itu pada 1930-an, tapi sekaligus menjadi merek dagang Betawi ”tempo doeloe” maupun ke-Betawi-an secara umum.
Hal terakhir itu dilanjutkan oleh Rano Karno yang naik daun sebagai bintang cilik sejak Si Doel Anak Betawi (1973). Dia hampir hilang pada 1990-an, tapi terangkat lagi lewat sinetron Si Doel Anak Sekolahan mulai 1994. Si Doel merupakan ”harta” bagi Rano yang coba mengangkat diri kembali melalui Si Doel Anak Gedongan mulai Oktober 2005 ini.
Kenapa Si Doel, bukan Si Dul? Rasanya malah kacau bila kita tidak mengikuti keinginan Rano ”Si Doel” Karno. Apa pendapat Anda tentang judul-judul film masa lampau? Coba simak: Rampok Preanger (1929), kenapa bukan Priangan? Juga Ouw Peh Tjoa (1934) dengan penjelasan Doea Siloeman Oeler Poeti en Item dan sambungannya, Anaknja Siloeman Oeler Poeti (1936).
Boleh saja ada penganjur untuk menulis Suharto, bukan Soeharto. Namun, di dunia film cuma ada Roekiah—bukan Rukiah—yang membikin penonton film di masa sebelum kemerdekaan tergila-gila kepadanya melalui film Terang Boelan (1937), Fatima (1938), Gagak Item (1939), Roekihati (1940), Koeda Sembrani (1941), dan lain-lain.
No comments:
Post a Comment