Saturday, April 28, 2007

Inspiring Moments

Inspiring Moments


Baru putus cinta? Atau bahkan baru jadian setelah 2 bulan jalan dan akhirnya sang bujang menyatakan cintanya ke teman sejatinya…? Banyak cara dilakukan untuk bisa menyatakan cintanya buat orang yang kita idam-idamkan buat dijadikan pasangan. Ada yang lakuin dengan bikin surprise candle light dinner, kasih bunga mawar merah plus sebuah bingkisan indah yang isinya coklat dan permen import nan lezat serta boneka lucu bentuk piggy warna pink atau boneka sapi yang lucu, atau dengan cara nembak langsung ke orangnya di depan lapangan upacara yang pagi itu emang lagi dilaksanain upacara bendera setiap senin dan otomatif disaksikan langsung sama sang Kepala Sekolah, para guru dan teman-teman sesekolahan (kok kayak acara reality show di TV swasta, yah!). Atau ada juga mungkin cara-cara unik lainnya untuk menyatakan cinta. Ide bisa dateng dari mana aja dan kapan aja.

Cara kita untuk menyatakan cinta itu bisa macem caranya dan mungkin cara itu didapet dengan dapet inspirasi dari seseorang atau pernah ngalamin sesuatu kejadian yang akhirnya dijadiin konsep untuk suatu hari dia nyatain cinta. Bicara yang namanya inspirasi, bisa kita dapet dari mana-mana. Ga hanya urusan cinta aja, tapi kejadian dan hal-hal apapun juga disekitar kita. Juga kejadian di film yang udah kita tonton pun akan jadi inspirasi buat kita untuk ngelakuin apapun. Bisa dibilang agar kita ga ketinggalan jaman, ikut korban mode, ngikutin trendsetter, biar dibilang gaul dan sebagainya.



Trendsetter. Apa sih yang namanya trendsetter itu? Sama ga sih kalo itu dikategorikan juga karena atas dasar adanya inspirasi? Terserah aja sih, gimana kita bisa mempersepsikan kemana dan apa itu artinya, yah!

Jujur aja, gw sendiri pun sempet ngalamin yang namanya trendsetter mass itu. Dibilang terinspirasi… ga tau juga, yah! Soalnya beberapa teman gw pun ngalamin hal yang sama. Mungkin juga pernah dialami sama semua lelaki ga di seluruh penjuru Indonesia, tapi juga di negara lain. Masih inget film SPEED, yang diperanin sama Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Apa coba yang terjadi setelah filmnya itu keluar dan ditonton jutaan pasang mata? Penampilan si Mas Nunu dengan potongan rambut pendek ala tentara itu yang akhirnya membius para lelaki untuk ikutan memotong rambutnya ala Mas Nunu. Yang akhirnya, yang tadinya ada beberapa lelaki yang malu-malu untuk tampil botak karena terbiasa dengan rambut gondrong atau BT alias belah tengah, pada saat itu dengan PD yang cukup kuat (atau dikuat-kuatin) untuk menjadi korban mode dari film Speed. Apa yang terjadi kemudian? Banyak tukang cukur atau barber shop yang akhirnya ketiban rejeki lumayan pada saat itu, sampe ada yang masang posternya si Mas Nunu di tempatnya buat dijadiin role model picture, buat pelanggan lelaki yang mau
di cukur. “Mau model apa, mas…? Mau potong gaya Speed…?” Hihihi…



Yang perempuannya pun ga ketinggalan. Demi Moore yang tampil bagus waktu di film GHOST tahun 1990 pun menjadi inspirasi buat para perempuan di seluruh dunia, kalo perempuan tampil dengan potongan rambut pendek ala lelaki pun masih pantas. Sampe ada istilah yang sekarang udah jarang gw denger, KDM alias Korban Demi Moore. mungkin duunya ada yang pernah ngalamin, ga?


Trendsetter biasanya pertama dilakuin dengan penuh percaya diri kuat oleh si pemerannya di film. Mereka sadar ga, yah! Kalo apa yang mereka lakuin itu akhirnya diikutin oleh semua orang? Setelah film The Fast and The Furious tahun 2001 yang udah dibikin sequelnya yang ke 2 dan 3, Tokyo Drift pun banyak menginspirasi orang-orang di dunia yang ingin mobilnya untuk di cat warna-warna ga jelas dengan berbagai ornamen warna ga jelas juga, yang pastinya dibikin senyentrik mungkin, bahkan ada yang ikut-ikutan dikasih lampu warna-warni di bawah mobilnya biar tambah seru dan nyentrik.




Ada juga. Setelah nonton filmnya Bring It On, yang nyeritain tentang Team Cheerleaders di sekolah SMU di Amerika itu, akhirnya itu bisa mengispirasi anak-anak abg perempuan di Indonesia untuk bisa masuk jadi anggota Cheerleaders di sekolahnya.





Atau bagi yang tadinya ga suka dengan memelihara ikan dalam aquarium, setelah nonton film Finding Nemo, akhirnya terinspirasi untuk memelihara ikan dalam aquarium, tertama ikan laut sejenis Clown Fish itu. Kalo temen gw, ada yang lagi hamil 2 tahun lalu dan ngidam pengen nonton film Spiderman, akhirnya begitu anaknya lahir dan kebetulan anaknya cowok, di kasih nama Marvel, (Hihihi… dikirain bakal di namain Spiderman juga!).



Ada yang terispirasi karena nonton filmnya Runaway Bride atau My Best Friend’s Wedding…? Atau mungkin terispirasi setelah nonton film Mrs. Doubtfire dan Tootsie…?


Thursday, April 26, 2007

BlitzMegaplex

BlitzMegaplex Phenomenon

“Pintu Teater 2 telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki karcis, Segera untuk memasuki teater 2…!”

Kalimat diatas udah sering banget kita denger di studio bioskop tetangga sebelah, which is bioskop 21 dan XXI yang selama ini sudah mendominasi di Indonesia udah sejak lama. Bioskop dengan image dua digit angka itu selama ini sudah berhasil membuat masyarakat Indonesia terkontaminasi, bahwa hanya ada satu bioskop di negara ini yang sudah layak dan reprsentatif dan juga menjadi satu-satunya tempat nonton film-film versi layar lebar baik dari dalam negeri maupun Hollywood dan negara-negara lain seperti Thailand, Jepang, India sampai daratan Eropa. Kita selama ini selalu yang terbayang di kepala, kalo nonton, yah, dimana lagi kalo ga di bioskop 21 atau XXI. Hari gini kayaknya MisBar alias Gerimis Bubar kan dah ga ada lagi di Indonesia. Yang masih ada mungkin bioskop-bioskop kecil dengan kualitas dan harga tiketnya tentunya dibawah 21. Bioskop jenis ini memang masih ada sedikit saja di beberapa pelosok Tanah Air, yang kadang hanya spesialisasi muterin film-film lama yang udah ga diputer lagi di 21 atau bahkan hanya film-film dari daratan India, China atau negara lain. Atau bahkan masih ada juga yang hanya muterin film-film Panas alias vulgar, kayak satu contoh, masihada di deket rumahku, namanya Bioskop Rio, (mungkin ada yang pernah denger…?). Atau ada yang udah pernah nonton di Theater IMAX Taman Mini, Jakarta belum? Kita patut bangga, karena menjadi satu-satunya IMAX Studio di Indonesia.

Sekarang ini, mungkin bioskop tetangga sebelah itu akan sedikit bahkan juga sudah ngerasa ketar-ketir dan “waspada”, karena sekarang ini di Indonesia, khususnya di kota besar seperti Bandung dan Jakarta sudah kedatengan pendatang baru dalam hal tempat nonton alias bioskop. Wajar aja kalo ngerasa ketar-ketir dan waspada, karena dengan begitu kan, akan semakin keliatan bahwa akan ada saingan dalam dunia bisnis bioskop di Indonesia bagi si 21 dan XXI.

Si pendatang baru itu adalah, Mari kita kenalan sejenak dengan BlitzMegaplex.

BlitzMegaplex yang pertama dibuka adalah di Mall Paris Van Java (PVJ), Bandung pada bulan Oktober 2006 silam. Kenapa dipilih kota Bandung sebagai kota pertama dibukanya bioskop ini…??? Satu sisi, kalo dari versi saya sih, karena PVJ adalah salah satu Mall yang sangat representatif untuk disediain Bioskop dan lagi salah satu Mall yang akan dan sedang tahap buka alias Soft Opening. Dan yang berikutnya menyusul di Grand Indonesia Jakarta yang sekarang ini sudah Soft Opening.



BlitzMegaplex PVJ dengan kapasitas 9 Studio yang mencanangkan dirinya sebagai studio bioskop yang nyediain layar bioskop terbesar pertama di Indonesia ini dan dapat menampung penonton kalo kesembilan studionya penuh dalam satu kali show time bisa mencapai 2,251 kursi, tampil dengan segala format yang baru dan ga ngebosenin bagi yang dateng. Kita ga hanya disuguhi akan penampilan film di layar yang besar aja, tapi juga dari segi Hospitality dan sarana pendukung lainnya. BlitzMegaplex ga hanya hanya menyuguhkan film sebagai hiburan penonton, tapi juga ada Café indoor dan outdoor, yang dapat menyuguhkan hiburan live music, ngedatengin selebritis tanah air sampai International, juga dengan didukung Food & Bev

erage items yang memadai dan mencukupi buat kita-kita yang emang hobi kongkow dan sebagai tempat baru dan alternatif kalo mau cari tempat makan atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul sama konco-konco, pacar, kerabat atau keluarga.



Bioskop yang menggaungkan dirinya dengan image Beyond Movies ini, ga hanya muterin film-film dalam negeri aja, seperti yang udah dilakuin pada wakt

u Soft Opening BliztMegaplex PVJ Oktober 2006 lalu, dengan muterin khusus film-film Box Office Indonesia, tapi juga muterin film-film dari Holllywood dan negara-negara Industri film lainnya, seperti Thailand, Korea, Jepang, China, Daratan Eropa dan lainnya.

Nothing to lose, kok! Karena kalo ada film yang ga diputer di 21, gue akan nontonnya di BlitzMegaplex. Dan karena hal ini juga, akan jadi suatu alternatif dan ngehindarin yang namanya kebosenan kalo kita dateng dan nonton ke tetangga sebelah aja. Begitu juga sebaliknya.



Jujur aja, gue suka banget dan jadikan menu favorit gue kalo ke BlitzMegaplex. Popcorn with Caramel! Hmmm… Yummmmy!

Di BlitzMegaplex, kita ga hanya disuguhi menu film-film terbaru aja dan menu-menu di café-nya, tapi kita juga bisa maen billiard sambil nunggu jam pemutaran film atau juga bagi yang maniak akan film alias Movie Freaks, dan pengen dapetin merchandises film, bisa dateng ke salah satu sudut di Lantai 2 yang nyediain segala pernak-pernik dan merchandises dari film-film ternama Hollywood seperti Star Wars, Superman Returns, dll. Atau bagi yang suka akan musik, bisa mampir dan download langsung buat dimasukin ke HP, Ipod atau ke Flash Disk di Digital Beat Store.

Bioskop BlitzMegaplex emang BEDA. Dan karena beda itulah, jadi seru, keren, cool dan satu lagi gue bilang kalo BlitzMegaplex itu PHENOMENON alias Fenomena baru bagi dunia bioskop Indonesia. Semua yang kita pengen bisa kita dapet disitu. Dari mulai nonton, makan, kongkow, billiard, music dan merchandises. Pokoknya ALL IN, dah! Tapi ada satu yang mungkin belum direalisasikan sama BlitzMegaplex. Seperti yang udah pernah gue bilang ke BlitzMegaplex, gimana kalo dibikin yang namanya Blitz MegaStore. Di situ bisa dijual segala macem merchandises yang bernuansa BlitzMagaplpex, seperti T’shirt, Polo Shirt, Topi, alat tulis kantor semacem pulpen dll, trus juga mungkin sejenis Pin atau buttons. Ini akan menjadikan suatu ajang promosi juga kalo sebenarnya BlitzMegaplex itu punya banyak penggemar dan nilai tambah dari segi promotion dan marketing.



Satu lagi yang mungkin bisa direalisasikan di BlitzMegaplex, dengan banyaknya macem promosi marketing, semisal acara Nonton Bareng, Gala Premiere Film Baru (udah pernah dilakuin dengan film Long Road To Heaven dan Pesan dari Surga), juga Fans Gathering, dan segala hal marketing lainnya. Pasti seru kok!

Nonton di BlitzMegaplex itu ga ngebosenin. Kita selama ini selalu disuguhi sengan sikap kaku, ga pernah senyum alias jutek abis dan sepintas seperti arogan dari bioskop tetangga sebelah dengan customer. Tapi di BlitzMegaplex ga lakuin itu. Hospitality dan Maitre ‘D-nya bagus. Juga kekakuan dihilangkan dengan ga hanya satu aja uniform kerja para karyawannya yang dipakai tiap hari, beda-beda dan gaya semuanya dan ngebikin itu jadi berkesan gaul tapi ga lepas juga dari sikap hospitality-nya karena sebagai salah satu bidang usaha yang mengutamakan Customer Satisfactions harus dijunjung tinggi. Tapi jangan salah, BlitzMegaplex juga harus belajar banyak dari bioskop yang sebelumnya udah ada. Jangan sampe nyamain banget, karena kalo sama ngapain bikin bioskop. Kayak misalnya, BlitzMegaplex ga lakuin Panggilan Khas untuk para penonton dari rekaman suara cewek untuk segera masuk Studio seperti yang dilakuin ama bioskop tetangga. Trus lagi, seragam kerja karyawan dibikin gaul abish, ada café-nya, juga Birthday Party-nya yang seru buat yang mau ngerayain di BlitzMegaplex.



So, selamat datang di Dunia BlitzMegaplex. Kalo gue boleh kutip sedikit dari yang BlitzMegaplex bilang, BlitzMegaplex… It’s time to enjoy movies in a different way. Emang bener banget!


KALA

Kala Menjual Mimpi


Kesan pertama begitu liat poster film KALA, sangat penasaran. Film apakah ini? Apa film drama, horor, komedi ato action...? banyak yang bilang juga dari berbagai sumber, kalo film ini kategori untuk dewasa. Dari pada penasaran, gw langsung aja nonton filmnya dan ternyata emeng baner ini film hanya buat dewasa. Bahkan bener-bener hanya buat dewasa. Joko Anwar mencoba berekspresi untuk yang pertama membuat film jenis ini yang masih jarang dikenalkan di Indonesia. Film Noir pertama Indonesia boleh bisa dibilang begitu.

Sepintas kalo gw bilang, film ini perpaduan dari banyak cerita adaptasi dari film-film yang udah sering gw tonton. Bisa dibilang juga, mungkin film yang di tulis sama Joko Anwar yang bertindak sebagai Sutradara juga. Dia gw rasa dapet inspirasinya dari beberapa film itu. Dan juga, kalo gw bilang lagi, Joko Anwar pengen nampilin kalo karya Indonesia itu juga ga hanya horor, melodi drama, percintaan anak smu, cinta anak muda dan kisah nyata yang difilmkan aja, tapi nyatanya, dia pengen nampilin daya halusinasi dan mimpi yang bisa direalisasikan dalam film dan ngebuat penonton untuk ikutan mikir jalan cerita dari awal ampe akhir (seperti kebanyakan film-film Hollywood). Dan bener juga sih, kebukti kalo gw juga sempet agak-agak mikir, kemana arah cerita ini dan akhirnya siapa yang akan menjadi yang disebutkan di film itu RATU ADIL dam penyelamat bangsa dari keterpurukan dan membawa bangsa itu lebih baik. Ratu Adil difilm ini kalo gw boleh bilang, kayak superhero aja kesannya, yah!

Cuman... Kalo boleh gw bilang, KALA ini kompilasi dari film yang themanya Detektif (mungkin terinspirasi dengan film Black Dahlia), trus juga Arisan!, Resident Evils, National Treasure, ada juga ditambah mungkin ngambil ide dari film-film kolosal yang banyak memakai pedang.



Dari segi akting, bagus banget. Sinematografi-nya bagus, Sound Editing dan Sound Mixing-nya bagus (menggelegar), Alur Cerita bagus, Wardrobe dan pemilihan Setting bagus, Flash Back Scene-nya bagus, apalagi, yah...?

Film KALA sebenernya ngambil setting dimana sih? Kok banyak banget yang anehnya. Satu sisi, mungkin emang di satu bangsa antah berantah (mirip Indonesia), tapi satu sisi, juga terbelakang tapi maju (pusing, kan...?). Gini. Dibilang, itu film agak-agak klasik, contoh dengan wardrobe yang super kuno, mobil yang oldies banget, bangunan-bangunan rumah, hotel, bar, gudang yang udah lapuk banget, tapi dikombinasiin dengan sentuhan modern dengan adanya Tape Recorder, suara sirine mobil polisi padahal mobil polisinya ga keliatan, hanya suara sirinenya aja (berasa nonton film dengan nuansa kota Bronk, New York), trus lagi jaman segitu udah ada Operator yang bisa terima telepon dari orang dan pake greeting yang bagus banget layaknya di jaman sekarang. Ada lagi, TV-nye emang masih item putih, tapi isi beritanya kok kayak infotainment aja, yah...? apalagi waktu si menteri diinterview dan dirubungin ama reporter dan wartawan yang pada pake mic dengan logo TV yang macem-macem. Oh ya, satu lagi. Emang pada saat itu udah ada rokok kretek alias rokok mild putih seperti yang dipake sama tokoh si Eros (Aryo Bayu). Gw agak curiga, jangan-jangan ini hanya modus Promosi dari salah satu brand rokok, kali! Soale, logo brand-nya keliatan jelas.

Ditambah lagi unsur-unsur politik yang ketara banget untuk selalu tutegakan demi keadilan. Juga pada masa itu, udah dikenalkan beberapa aksi yang mengacu kearah kebaikan bersama bagi seluruh rakyatnya. Bisa dilihat, dari beberap banyaknya poster yang ditempel dibanyak dinding bangunan di semua sudut kota antah berantah itu. Kayak contohnya, poster Anti Porografi (kalo ga salah), ada juga yang tulisannya Kerja Keras. Kalo yang ini mungkin ada sedikit pesan moralnya juga. Karena kalo mau usaha berhasil atau sukses dalam berbagai bidang, kita harus berusaha keras dan pantang menyerah. (Dooooooo... masa sih?).



Gw ga ngerti, ini film sebenernya untuk konsumsi sapa? Karena disitu sangat ketara banget kalo memperlihatkan kalo punya badan yang keren dan muscle (buat cowok) akan terlihat keren kalo bertelanjang dada dengan memperlihatkan dada ang bidang dan berkesan seksi dan keren. Buat para cowok dengan orientasi cowok juga mungkin akan jadi satu lagi hiburan buat mereka. Terutama waktu Eros duduk di pinggir

tempat tidur di suatu hotel, dan yang bangun disebelahnya adalah ternyata cowok seksi dengan badan yang sering ke Gym. dan udah pasti, kalo Eros walo jabatannya seorang Detektif, tapi doi demen ama cowok. Kenapa ga sekalian aja Fachri Albar dibuka bajunya untuk ngeliatin dadanya, apa muscle juga apa ga? Hahaha...



Yang penasaran ama adegan ciumannya Shanty dan Fachri Albar... bisa dibandingin juga keberanian Joko untuk nampilin kalo aktor Indonesia bisa beradegan seperti itu. Shanty mupeng dan nyosor banget, yah! Hihihi...

Gw acungin 4 JEMPOL sekaligus buat Joko Anwar untuk cerita yang bagi gw cukup brilian. Gw yakin, pasti memerlukan riset yang ga gampang dan pake pikiran yang mateng banget buat ngegabungin semua cerita akhirnya bersatu dan ketemu di akhir cerita. Cukup menghibur dan bisa menjadi spirit dan motivasi untuk para script writter Indonesia untuk buat cerita yang ga itu-itu aja. Akhirnya Joko Anwar bisa menjual mimpinya lewat KALA yang akan menjadi satu acuan juga buat kebangkitan film-film Indonesia bermutu.


Well done, Joko!

Interview With The Movie


“Why Do You Like Movie…?”



Mungkin pertanyaan itu pernah kamu denger ato bahkan pernah juga kamu utarain ke orang lain dan pastinya dengan asalan tertentu, makanya kamu tanyain pertanyaan itu.
Sedangkan kamu sendiri gimana?

Sejak kapan sih kita udah kenal dengan yang namanya film itu sendiri? Mungkin kalo di negara barat udah dari tahun 1800-an kali, yah! Pada saat film masih berbentuk dan ebrwarna hitam putih dan bisu alias ga pake suara. Tapi kalo di negara kita, orang Indonesia baru mengenal yang namanya film semenjak pertama kalinya film itu dibuat pada dahulu kala, tepatnya kisaran tahun 1926, sejak film yang punya ngaran LOETOENG KASAROENG dan pada tahun itu, bentuk filmnya masih merupakan film bisu. Baru pada tahun 1954, film LOETOENG KASAROENG di buat remake-nya dan sudah tidak bisu lagi namun masih bergambar hitam putih sama dengan yang dibuat tahun 1926. baru akhirnya tahun 1983, film LUTUNG KASARUNG dibuat remake kembali dan sudah berwarna. Film yang bercerita tentang suatu budaya dari tanah Jawa Barat ini, sudah barang tentu menjadi suatu kebanggaan negara Indonesia. Karena dengan dibuatnya dan adanya film tersebut di tanah air, bukti bahwa orang Indonesia ga mau ketinggalan jaman pada masa itu. Satu sisi, guw saluth. Karena tuh film ampe dibuat 3 versi dengan 2 kali remake. Pasti bangga buat semua warga Jawa Barat, karena menjadi thema cerita dalam film pertama di Indonesia dan yang akan menjadi acuan kebangkitan pertama kali bagi dunia perfilman Indonesia.



Kembali ke Laptop, eh, Movie alias film!
Kapan pertama kali kamu nonton film? Kalo gue sih udah lupa banget. Sejak aku dilahirkan di dunia dan akhirnya tumbuh berkembang dan bisa mendengar dan melihat, dan akhirnya juga bisa nonton gambar di TV, itulah pertama kali gue bisa nonton yang namanya film. Apa itu film Indonesia ato film luar negeri. Kalo dulu sih, gue emang sukanya ama film-film yang genre kartun ato film kategori anak-anak (ga mungkin aja seumuran masih kecil gw dah nonton film dewasa, bisa dikemplang kali gue ama ortu gue pada saat itu!). yang gue suka pastinya film kartun keluaran Disney, kayak Donald Duck dkk, trus ada juga film kartun Tom & Jerry (yang masa sekarang pun masih diputer di TV swasta). Kalo film yang bukan kartun sih, gue da lupa. Cumin ketika gw duah menginjak sd ato smp, gue pernah nonton film-film Indonesia yang bethemakan perjuangan, kayak Serangan Fajar, Penghianatan G 30 S PKI, Tjoet Nya’ Dhien, kalo film dramanya, gue pernah nonton film Serpihan Mutiara Retak yang diperankan sama Chintami Atmananegara. Tapi itu dulu banget, gue masih belum punya criteria khusus kesukaan film macem apa yang gue suka.







Kalo bicara film kesukaan sekarang sih, banyak banget alesan kenapa gue bisa suka ama film ini ato film itu… apa karena karaketr dan peran yang dimaenkan di filmnya, bisa juga karena aktor atau aktrisnya, juga apa karena itu film kolosal, drama, komedi, horror, suspense, action atau ada katedori lainnya. Dan kadang karena factor kesukaannya itu pula yang ngebuat gue jadi semakin suka dan cinta banget sama yang namanya film alias movie.



Misal aja, karena gue suka ama tokoh Superman, jadinya gue ga akan lepas dan selalu update dengan segala sesuatu yang namaya Superman. Trus juga gue suka ama jenis flm kolosal, semisal King Arthur, The Lord Of The Ring, Kingdom Of Heaven, Troy, Alexander, juga yang terakhir kemaren ada 300. selain 2 jenis film diatas, gue juga suka sama film drama terutama yang diperanin sama Nicole Kidman dan Jake Gyllenhaal. Film kartun produksi Disney’s sangat gue suka. Mulai dari Beauty And The Beast, Finding Nemo, Cars sampe yang terakhir kemaren Meet The Robinsons. Film-flm bertema animasi CGI juga gue suka mulai dari The Matrix, King Kong, Superman Returs, Spiderman, The Day After Tomorrow, LOTR, dll. Selain itu, ga tau kenapa, gue sangat menyukai segala film yang mengandung nilai sejarah tinggi. Kayak Da Vinci Code, King Arthur dan film-film kolosal sejarah lainnya, trus juga ada The Mummy dan Mummy Returns.




I Love Movies So Much!

Aji Mumpung atau Maksain!

AJI MUMPUNG atau MAKSAIN!


Glamor… Terkenal… Sensasi… Spektakuler…
Dan mungkin masih banyak lagi istilah buat para selebriti baik dari indonesia maupun dari belahan dunia lainnya. Mereka memang penuh dengan segala hal yang berbau ‘MAHAL’. Tapi apa mereka juga pernah memikirkan, kenapa mereka menjadi seperti itu karena apa, bagaimana, atau bahkan karena siapa…?
Ada mungkin yang karena emang bakat alam mereka bisa akting bagus banget, bisa nyanyi bagus banget, maen musik bagus banget atau hal-hal seni lainnya.
Ada juga yang karena bantuan seseorang atau suatu institusi yang ngebuat mereka menjadi terkenal, misalnya adanya Reality Show yang sempat marak di indonesia tahun-tahun kebelakang kemarin, walo masih ada yang bertahan sampe sekarang dan ada juga yang akhirnya collaps. Bisa kita sebut disini, Artis Dengan Ketenaran Instan.

Ada yang bisa bagus di seni peran, ada yang nyanyinya jago dan bagus dengan tingkat kesalahan yang hampir ga ada, trus lagi ada juga byang maenin alat musiknya keren banget. Tapi apa mereka semua itu karena bakat aja ato karena modal ikut-ikutan aja dengan alesan ‘Pengen jadi artis aja, ah!”



Juga bahkan ada artis yang bisa ngerambah dari dunia nyanyi ke dunia seni peran dan sampe maenin alat musik segala. My think, ini namanya AJI MUMPUNG atau MAKSAIN, sih…?

Gw sih bukanya sirik pengen jadi artis kayak mereka. Gw sadar aja, gw ga punya bakat disana. Nyanyi aja fals dan ga jelas tone-nya, trus maen seni peran…? Boro-boro bisa konsentrasi dan akting bagus, untuk urusan agamis aja kadang gw suka masih belum bisa konsentrasi dan khusyu dengan baik walo gw pengen banget bisa salalu khusyu dan konsentrasi lebih baik lagi dalam beribadah.





Aji mumpung mungkin bisa di maafin. Karena gw sadar, mereka emang punya kemampuan disitu. Bisa nyanyi sekaligus maen seni peran. Dah ga sedikit emang artis yang pegang kerjaan double. Misal, dia juga nyanyi dan juga akting. Misalnya kalo di tanah air nih, ada yang namanya Desi Ratnasari dkk… trus kalo di luar negeri ada Beyonce Knowles, Mandy Moore, Ludacris, Whitney Houston, Eminem, Madonna, Mark Wahlberg, Will Smith sampe yang namanya Britney Spears dan Mariah Carey pun pernah maen film walo hanya sekali aja, dan akhirnya filmnya ga laku dan ini yang namanya jelas banget, Maksain! (inget kan sama film Crossroad dan Glitter). Atau ada juga kebalikannya, dari seni peran jadi nyanyi. Yang tau jagoan. Siapa yang nyanyiin lagu Come What May, yang jadi Soundtrack-nya film Moulin Rouge. Trus ada lagu-nya Gwyneth Paltrow, yang judulnya Cruisin’. Inget…? Atau kalo di indonesia, ada 5 artis ABG yang nyanyiin lagunya Let’s Dance Together dan jadi soundtrack film BBB.




Untuk mencapai ketenaran emang bagi mereka yang ngerti di dunia seperti itu mungkin gampang-gampang susah aja. Banyak cara bisa dilakuin. Dan salah satu contohnya, yah, dengan ngerambah ke dunia keartisan yang lainnya itu mungkin! Satu artis seni peran sedang naek daun, istilahnya sih, rejekinya lagi bagus-bagusnya. Banyak tawaran maen di sinetron atao bahkan film. Lalu dia belajar olah vokal agar bisa nyanyi dengan baik dan benar (menurut dia, hihihi…) trus setelah sekolah vokal, akhirnya tebar pesona atau syukur-syukur ada produser dengan ga sengaja nawarin dia bikin album, akhirnya, kita bisa temuin albumnya dia di toko kaset. Tapi yang gw tanyain lagi, albumnya laku ga yah…? Lagunya dia ada yang dengerin ga, yah…?

Biarkan sang prosuder dan Tuhan aja yang tau!



Dapet job nyanyi, manggung di café, main sinetron, main film, sampe coba menjajaki seni teater sekalipun. Apa itu semua merupakan emang lahan pekerjaan mereka ato emang itulah pekerjaan tetap mereka…?
Kita capek-capek kuliah 5 tahun bidang Akuntansi, Sastra, Teknik Sipil atau Arsitek, dapet kerjaannya pun juga di Bank, Biro Jasa Perjalanan, Kontraktor, Konsultan Tehnik, atau jadi Arsitek yang notabene emang itu ilmu yang kita dapet dan Insya Allah, akan menjadi lahan untuk mencari nafkah kita sampe tua, Amien.

Lalu bagaimana dengan para selebrtis itu…? Apa pekerjaan mereka yang jadi penyanyi, aktor/aktris, seniman, drummer, gitaris sampe sutradara akan menjadi lahan mencari nafkah mereka sampe tua…? Mungkin hanya sebagian kecil aja yang akhirnya menjadikan pekerjaan itu nomer dua, sedangkan pekerjaan utamanya, yah jadi artis itu, lah! Atau bahkan ada yang kebalikannya. Dia juga jadi selebritis terkenal dan ajdikan lahan pekerjaan nyanyi jadi lahan nomer satu dan pekerjaan di bank hanya nomer dua, untuk jaga-jaga kalo dia ga laku lagi. Atau dibikin imbang aja gimana…?



Juga, kita sebagai penonton sejati mungkin adalah para kritikus sejati (terutama gw), yang selalu mencecar kritikan pedas, kalo ada artis baik penyanyi atau pun seni peran yang suka aneh-aneh. Misal nyanyinya jelek banget, ganti aliran musik, aktingnya jelek banget, ga pantes meranin suatu karakter, atau juga yang ber-aju mumpung nyobain lahan keartisan lain tapi teuteub aja ga pantes. Kita bisa menilai, siapa dan mana yang pantes atau bagus, yang pastinya juga mungkin akan jadi patokan bagi mereka, apa mereka akan tetap di jalurnya ato bakal melenceng!

Only God knows why!

Ghost vs Hantu

GHOST vs HANTU


The Grudge, Dark Water, The Ring, Pulse, Shutter, Kuntilanak, Pocong2, Terowongan Casablanca sampe yang akan keluar bentar lagi, film Angker Batu atau sebagainya, adalah hanya sedikit dari contoh film2 bertema hantu. Dan entah kenapa, biasanya nih, film2 dgn genre horror spooky itu malah yang laku dipasaran. Apa itu karena factor nyeritain hantunya atau ada factor lainnya…?

Masih inget ga, dulu waktu gw masih dibangku SD, ada satu film horror Indonesia yang menurut gw film itu adalah film horror terhoror sepanjang masa di Indonesia, tapi entah kalo buat negara laen, yah! Nama filmnya PENGABDIAN SETAN. Yang maennya kalo ga salah ada Dina Mariana waktu masih kecil, trus ada Him Damsyik yang jadi salah satu setannya. Film iru nyeritain kejadian di malam Takbiran yang menghantui sekeluarga yang masih tersisa, yaitu sang ayah dan 2 anaknya. Sang ibu pun telah jadi hantu berserta dgn hantu-hantu lainnya. Dan di akhir cerita akhirnya, happy ending sih, karena akhirnya para hantunya itu bisa ditumpas dgn bantuan para ustad dan ulama. ( maaf kalo agaka aneh nyeritainnya, karena jujur aja aku lupa cerita dan para pemainnya!)

Cerita diatas hanya intermezzo aja sebenernya. Walo film-film hantu Indonesia jaman sekarang pun ga jauh beda dgn film Pengabdian Setan. Tetep ada sosok pocong, kuntilanak, mayat hidup berjalan dan memakan manusia, juga hantu-hantu jenis lainnya yang semuanya ada di film Pengabdian Setan itu.


Pernah ga ada yang ngalamin liat ato bisa ngerasain adanya kehadiran hantu itu disekitar kita?
Mungkin kalo aada yang punya kemampuan lebih, ato biasa disebut Indigo, mungkin agak2 terbiasa kali, yah! Tapi buat yang ga biasa liat begituan (hantu maksudnya) mungkin akan Freak Out duluan. Seperti saya contohnya, hihihihi…

Hantu umumnya adalah roh seseorang yang tetep ada di bumi setelah kematiannya, tapi beberapa sumber bilang, bahwa hantu itu sebenernya ngambil kepribadian orang yang uda mati dan ga ada kaitannya dengan roh atau jiwanya. Hantu itu sering digambarin berbentuk wujud manusia atau binatang dan yang paling sering sih, katanya yang udah pernah liat, sering di gambarin berwarna keperakan atau putih, atau berbentuk menyerupai asap/kabut. Dan kadang juga, hantu itu ga pernah memperliahatkan dirinya secara langsung, tapi bsia dengan cara menggerakan benda seperti buka tutup pintu, menggerakan lampu gantung, main piano, menggerakan lukisan atau pigura atau bahkan membuat benda-benda lian seperti melayang. Bahkan juga, hantu kadang suka mengeluarkan suara-suara aneh yang ga jelas.


Tiap negara memiliki berbagai macem kisah mengenai hantu. Di negara-negara barat, hantu dipercaya sebagai jiwa yang tidak bisa beristirahat dengan tenang setelah kematiannya hingga dia bergentanyangan di muka bumi. Dan menurut mereka juga (bangsa barat), para hantu itu biasanya bersemayam di suatu tempat antara neraka dan surga. Biasanya juga, para hantu itu bergentanyangan dikarenakan dia ga bisa menemukan tempat yang layak dikarenakan urusan ketika dia masih hidup belum selesai, makanya dia di muka bumi pun tidak dapat diterima keberadaannya. Makanya, hal tersebut berakibat pada hantu-hantu yang mempunyai rasa dendam kepada yang di bumi, kenapa dia dulunya bisa mati apa karena dibunuh atau karena sesuatu lainnya. Kalo di dataran eropa, terutama inggris dan mungkin juga di dataran belahan dunia lainnya seperti di Indonesia, para hantu itu biasanya bersemayam di bangunan-bangunan tua nan langka dan bisa jadi juga sudah berumur ratusan tahun lamanya. Jangan salah, di Buckingham Palace pun dikabarkan bersemayam hantu leluhur kerajaan Inggris masa lalu. Kalo di Indonesia mungkin ada di gedung-gedung tua semacem Gedung Sate, Musium Geologi, Istana Bogor, dan rumah-rumah tua lainnya di Indonesia.

Di dataran Asia lainnya, contohnya di China, hantu dipercaya sebagai jiwa yang menolak untuk bereinkarnasi sebelum urusan di bumi selesai. Biasanya, para hantu itu diusir dengan bantuan doa-doa dan mantra-mantra oleh para ahli keagamaan atau istilahnya dukun atau paranormal (kayak acara Pemburu hantu di salah satu Stasiun TV swasta aja, yah!). katanya sih, kalo ada hantu penasaran bergentayangan dan mencari mangsa itu, biasanya dia punya tujuan tertentu dengan orang yang dia gentayangin atau bakal di datengin.


Beberapa ahli di bidang supranatural bilang, kalo masih ada kejanggalan apakah hantu itu sebenarnya dapat dilihat dengan mata telanjag manusia atau tidak. Beberapa dari mereka ada yang mengambil keputusan, kalo hantu itu dapat terlihat oleh kita hanya karena dasar halusinasi kitanya aja. Bahkan ada juga yang bilang, kalo sebenarnya manusia itu ga bisa melihat hal-hal klenik semacem hantu itu, dikarenakan dunia kita pun sudha beda. Kalopun ada hantu yang terlihat sama manusia, itu adalah justru yang apes bukan manusia, tapi si hantunya yang sial karena kelihatan sama manusia. Satu contoh, kita lagi jalan di suatu jalan gelap, kan bagi yang suka menghayal yang aneh-aneh, pasti akan kebayang di kepalanya kalo dia itu berasa diikutin ama seseorang atau sesuatu. Padahal jalan gelap yang dia lewatin itu bukan di daerah angker atau daerah pemakaman umum. Hiiiiii…! Tapi ga tau juga, yah! Kalo ada yang udah pernah ngeliat hantu, kalian persepsikan sendiri aja, apa itu termasuk kedalam halusinasi belaka atau kesialan dari si hantunya. Ada yang berani uji nyali?

Naga Bonar Jadi 2


“ Apa Kata Dunia…!”

Quote diatas adalah merupakan salah satu dari apa yang sering dikatakan oleh Sang Naga Bonar di film-nya yang pertama keluaran tahun 1986, yang pada tahun 1987 berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Film Terbaik dan Deddy Mizwar juga berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Pemeran Pria Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 1987. Siapa sih, yang ga tau Film NAGA BONAR waktu itu…? Film yang skenarionya ditulis oleh Asrul Sani (Almarhum) dan disutradari oleh Deddy Mizwar, yang juga pernah menyabet predikat sebagai Film Yang Paling Laris di tonton dan Dengan Jumlah Penoton Terbanyak pada masa itu, diperankan oleh Deddy Mizwar dan Nurul Arifin. Dan akhirnya, di tahun 2007 ini pun kita dapat membuktikan sendiri kalo quote diatas sangatlah melengenda lewat film terbaru arahan Deddy Mizwar sendiri sebagai Sutradara di filmnya yang fenomenal, NAGA BONAR JADI 2.
As we know, di film tersebut menceritakan kalo Naga Bonar adalah dulunya Pencopet ulung, yang akhirnya diangkat menjadi seorang Jendral pada masa Perang kemerdekaan Indonesia. Namun di film Naga Bonar jadi 2 ini, peran yang banyak diberikan sebenarnya terletak pada tokoh Bonaga. Anak yang sangat berbakti kepada Orang Tua-nya dan ga akan pernah hilang rasa cinta dan kasih sayangnya, jujur, bertanggung jawab walau dia masih ada kesamaan karakter dengan bapaknya, yaitu masih malu-malu untuk menghadapi dan menyatakan cinta dengan wanita pujaannya. Karakter ini sama dengan sang bapak yang duunya pun begitu ketika menyatakan cinta kepada Kirana, yang di sequel-nya kini sudah meninggal dunia. Walau Bonaga hidup dan tinggal di kota besar dan merupakan salah satu refleksi dari tipe pria metroseksual, modern, dinamis dan pintar juga pernah sekolah dan kuliah di Inggris dan menjadi salah satu anak muda yang berprestasi di Ibukota, juga menjadi eksekutif muda dan pengusaha paling kaya dan pintar dari Medan di Jakarta.
Jujur aja, saya sangat ga sabar buat pengen buru-buru nonton film ini, karena selain ingin liat paduan acting Tora Sudiro yang berperan sebagai Bonaga, anak dari Naga Bonar yang tetap diperankan sama Deddy Mizwar dalam satu frame. Apa Tora bisa mengimbangi peran tersebut atau tidak? Sepintas, dari awal film dimulai, karakter seorang dengan darah batak yang sangat kental tidaklah hilang drai sosok Deddy Mizwar. Dari segi kepolosan dalam hal berpikir yang dialaminya di zaman yang sudah modern dan juga tidak menghilangkan apa yang dia dapat dan dia alami di masa lalu dia sewaktu masih berperang.
Wajar aja, kalo menurut sumber di Ibukota, kalo NAGA BONAR JADI 2 menjadi The Anticipated Movie of 2007 alias film yang paling ditunggu untuk ditonton sama para penggemar Film Indonesia.
Satu sisi, emang banyak banget peran yang terjadi di film sequel-nya ini. Kita bisa diharu biru bahkan juga tertawa terbahak-bakah dengan karakter dan peran Naga Bonar dan Bonaga, tapi juga ga lepas dari karakter pendukung dari Wulan Guritno juga Lukman Sardi, yang kalau aku bilang sih, peran Lukman Sardi justru yang paling bagus dan natural kalau dibandinkan lakon Tora Sudiro. Peran yang dilakukan oleh dia lebih kena ke jiwa dan banyak pelajaran yang didapet dari perannya. Seperti hal agama, kedewasaan dan kesederhanaan namun bisa menjadikan semuanya berarti dan dihargai, bahkan oleh orang yang mampu/kaya sekalipun. Sepintas, emang karakter-karakter lucu nan kocak ga lepas tetap dari semua scene. Film ini banyak banget pesan moral yang disampaikan dari sang Penulis Skenario, Musfar Yasin. Beliau mungkin sengaja memasukan karakter yang mengandung banyak pesan moral di film ini. Seperti contoh, ketika Naga Bonar ga habis-habisnya melakukan suatu tindakan yang merupakan satu bentuk rasa cinta dia kepada Tanah Air Indonesia, dikarenakan dia adalah veteran perang zaman kemerdekaan. Seperti yang dia lakukan dengan meminta Umar (Lukman Sardi) untuk berkeliling Jakarta dan akhirnya sempat mempir dan memberi hormat di Patung Bung Karno – Bung Hatta, juga dia dengan perasaan haru biru, meminta kepada jendral Sudirman untuk menurunkan tangannya dari posisi menghormat (padahal, itu hanya Patung jendral Sudirman yang terletan di tengah-tengah marka jalan di Jalan Sudirman Jakarta), dan dia ga henti-hentinya menghormat kepada Sang Jendral tersebut. Juga sewaktu diadakan upacara bendera di lapangan, dia ga akan turunin tangan dari posisi menghormat ke Bendera Merah Putih sebelum Sang Bendera akhirnya sampai ke ujung tiang. Sampai akhirnya dia pun kecapaian dan ditahan oleh anak-anak kecil agar posisinya tetap berdiri tegak menghormat Sang Merah Putih.
Cuman ada yang aneh sedikit bagi saya sewaktu fokus nonton film ini. Kejadian Naga Bonar di film pertamanya kan terjadi dengan setting tahun 1945-an. Nah, berarti umur dia sewaktu itu kan mungkin kisaran 20 tahunan. Dan di film sequelnya, dia sudah memiliki anak (Bonaga) yang mungkin berumur kisarah 28-30 tahunan. Seharusnya, kalo diitung-itung, di sequelnya, Naga Bonar harusnya sudah sangat tua sekali, mungkin kisaran umur 80 tahuan dan Bonaga harusnya ga berumur segitu, tapi mungkin udah kisaran 50 atau mendekati 60 tahuan. Karena settingnya sendiri yang sangat memungkinkan dan keliatan banget tahun 2006. dengan didukung dengan banyaknya gadget yang sudah ada sekarang di film itu, yang… sudah pasti itu pun sebenarnya satu ajang promotional bagi suatu brand.
Satu lagi kejanggalan yang didapet, saya sangat keganggu dengan highlight alias membuat rambut Deddy Mizwar terlihat seperti sudah beruban. Highlight yang dibuat kok kayak highlight-nya anak muda sekarang, yah…? Coba kalian perhatiin lebih detail lagi dan bedakan dengan kalo rambut orang manula (uban) dengan highlight di salon! Trus, waktu adegan Bonaga dan Naga Bonar tiba di bandara, dan dijemput sama 3 orang teman Bonaga. Awalnya, peran si Jaki (Mike Muliadro) tidak memakai t’shirt putih sebagai rangkepan kemeja dan jas dia, sehingga (maaf) bulu dada dia sedikit terlihat. Namun hanya dengan beda scene beberapa detik saja, dia sudah dalam keadaan memakai t’shirt putih sebagai rangkepan, sehingga bulu dada dia tidak terlihat lagi. Ada lagi nih, waktu Bonaga pulang dari apartemen Monita karena disuruh bapaknya untuk menyatakan cinta, dan dia masuk ke rumah dengan tampang masam walo dicecar banyak pertanyaan sama sang bapak, t’shirt putih Bonaga dalam keadaan tidak dimasukan kedalam celana. Tapi hanya beda mungkin 2-4 detik, ketika dia akan masuk ke kamarnya setelah menaiki tangga, keadaan t’shirtnya bagian depanya sudah dalam keadaan dimasukan kedalam celana sedikit, sehingga gesper ikat pinggangnya terlihat. Selain itu, Tora Sudiro masih kurang logat Batak-nya. Malah logat Jawa-nya yang keliatan kental. Walo emang sih, dengan anggapan sudah terkontaminasi dengan kehidupan modern dan apalagi sudah pernah tinggal di Inggris. Tapi setidaknya, kalo mau dapetin Piala Citra lagi kan harusnya bisa lebih matang lagi latihan dengan berdialek logat Batak, hehehehe…
Tapi yah… Over all, semua karakter dan peran juga scene di Naga Bonar Jadi 2 ga hilang dan berkurang dengan adanya sedikit mistakes diatas, yah!
Bagi saya, tetap harusnya Industri Perfilman Indonesia itu berjaya dengan film-film yang ber-genre seperti ini. Ga hanya didominasi horror, percintaan anak sma, dan peran-peran abg lagi yang sebagain besar emang konsumsinya akhirnya buat kalangan abg lagi. Orang Indonesia secara umum layak dapet hiburan dari bentuk film yang layak ditonton untuk semua umur dan kalangan. Terutama ide-ide scenario yang orisinal dan berdaya jual tinggi. Ga hanya sebatas untuk kelas abd, horror, dan sebagainya. Berbentuk sequel lagi pun tidak masalah, asalkan itu bisa mewarnai kancah perfilman Indonesia yang beragam. Saya sangatlah kangen dengan film-film kolosal Indonesia semacam Tjoet Nyak Dien, dll. Andaikan satu hari nanti, ada satu ide keluar dari kepala para penulis Indonesia yang bercerita tentang Perang Diponegoro, Kisah Legenda Sangkuriang, Kisah Perjuangan yang di film-kan, atau cerita-cerita lainnya yang mungkin masih banyak dan layak difilmkan secara menghibur.
Bagi saya, kebangkitan Film Indonesia sudah ditandai dengan keluarnya film-film semacam Arisan, Petualangan Sherina, Berbagi Suami, janji Joni, Gie, Naga Bonar Jadi 2 dan yang akan keluar bentar lagi, Kala. Bagi saya, film-film horror dan thema percintaan remaja sma hanya intermezzo aja dan bukan dikategorikan sebagai tanda kalo film Indonesia sudah bangkit lagi. Justru karena film-film dengan genre horror dan anak sma itulah yang bisa menurunkan lagi Perfilman Indonesia. Dinilai, kalo Indonesia ga kreatif, monoton dan ide-idenya untuk film mentok di situ-situ aja. Gimana mau maju kalo ga ada perubahan dan tingkat kreatifitas yang lebih diutamanin dan bukan hanya sekedar latah atau plagiat. Saya sebagai Warga Indonesia sangatlah mendukung Film Indonesia sendiri.
Sudah saatnya, Indonesia bisa lebih maju dalam hal Perfilman. Kali-kali lah, film Indonesia bisa masuk salah satu kategori Academy Award. Ga hanya bisa sampe di Submissions aja, seperti film Berbagi Suami dan Ca-Bau-Kan karya Teh Nia diNata, trus lagi ada Daun Di Atas Bantal karya Garin Nugroho.