THINK GLOBALLY,
ACT LOCALLY
Kemajuan suatu hal adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang. Apakah itu dalam hal pekerjaan di kantornya, kemajuan suatu bisnis untuk mencapai profit yang semakin menguntungkan, kemajuan bagi mahasiswa aatu pelajar untuk semakin menjadi pintar dan cerdas, juga kemajuan di bidang dan hal-hal lainnya.
Indonesia baru saja merayakan hari Kebangkitan Nasional yang ke-99, tepatnya dirayakan di setiap tanggal 20 Mei 2007 yang lalu. Tepatnya, 99 tahun yang lalu, atau tanggal 20 Mei 1928. beberapa mahasiswa, alah satunya adalah Dr. Soetomo yang juga akhirnya menjadi penggagas pertama Kebangkitan Indonesia, mengutarakan suatu keinginan dihadapan rekan-rekan sesama mahasiswa pada waktu itu, yang mana mereka sangat ingin agar Negara Indonesia menjadi lebih maju lagi dan tidak semakin terpuruk dengan adanya penjajahan Belanda, yang sangat menyengsarakan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Mereka sangat memikirkan seluruh harkat dan martabat bangsa Indonesia yang buruk dan banyaknya ketidakadilan yang dialami masyarakat Indonesia pada masa pendudukan penjajah dan juga masa pemimpinan daerah yang banyak menyengsarakan rakyat kecil.
Akhirnya, para pemuda tersebut mencanangkan suatu perubahan besar bagi seluruh masyarakat Indonesia agar dapat keluar dari kesengsaraan dan penindasan, dan agar masyarakat agar dapat hidup lebih makmur dan sejahtera lagi.
Tidak terlepas dari kejadian 99 tahun silam, bangsa ini pun dimasa sekarang harusnya masih memikirkan akan keadilan dan mendahulukan akan keadilan akan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat kecil yang masih kita dapat temui disekitar kita sekarang ini.
Arti kebangkitan itu bisa luas artinya, tergantung buat yang bisa menterjemahkannya ke hal apa dulu. Termasuk juga kebangkitan di dalam hal perfilman Indonesia yang di masa sekarang ini, bisa dibilang dan bahkan banyak uang bilang kalo Perfilman Indonesia sudah mengalami kebangkitan dari keterpurukan dan yang selama ini sekitar 6 atau 7 tahun kebelakang mengalami kelesuan akan produksi film di tanah air.
Kebangkitan film Indonesia bisa dibilang dimulai kembali dengan hadirnya film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tahun 2001 silam. Setelah itu, hadir banyak yang mengikuti jejak film produksi Rumah Produksi Miles Productions miliknya Mbak Mira Lesmana. Semisal, film Arisan, Jelangkung dan masih banyak lagi. Dan akhirnya, di pertengahan tahun 2007 ini, sudah banyak film Indonesia yang diproduksi. Mulai dari tema percintaan, horror (yang selalu dan masih mendominasi), komedi, drama remaja abg (yang juga masih mendominasi) dan tema lainnya yang sebenarnya masih jauh ketinggalan dengan Negara lain. Tapi setidaknya, kita sudah patut bangga akan produksi dalam negeri yang notabene menjadi asset juga buat bangsa kita dan patut dibanggakan lagi, ada beberapa dari film Indonesia tersebut yang biasa saja di negeri sendiri, tapi nyatanya mendapat berbagai penghargaan perfilman di Negara orang.
My think, kebangkitan film Indonesia itu justru ditandani bukan dengan maraknya film-film dengan genre Horor damn perciontaan anak abg yang selalu mendominasi di semua bioskop Indonesia. Bayangin aja, dalam satu bulan, bisa ada 2-3 film horror keluar dalam bulan yang sama dan waktunya bersamaan. Ini maksudnya saingan untuk dapetin profit lebih banyak atau hanya sekedar pengen sensasi aja? Kan sebenernya kalo emang tujuannya pengen dapetin penonton lebih banyak, mereka harusnya bisa membaca, kapan film ini atau itu rilis, agar waktunya ga bentrok. Malah rugi sendiri nantinya, kan! Harusnya produser Indonesia bisa lebih pintar lagi untuk mencari celah dan timing yang tepat untuk masa edar film-nya. Misalnya pas liburan sekolah, liburan Lebaran, liburan Natal atau akhir tahun, atau masa dimana emang pas untuk keluarin film tersebut.
Indonesia mengalami kebangkitan perfilman jutsru menurut saya bukan dengan maraknya film horror atau drama cinta abg. Tapi kalo boleh saya bilang, jutsru dengan keluarnya film-film seperti Arisan, Berbagi Suami, Janji Joni, 9 Naga, Gie, Naga Bonar jadi 2, Badai Pasti berlalu, KALA dan Denias, Senandung Diatas Awan. Film-film diatas menurut saya sudah mewakili akan suatu kebangkitan Perfilman Indonesia di masa sekarang. Harus di ciptakan kembali film-film bermutu dengan ide-ide kreatif lainnya yang menjujung tinggi akan nilai originalitas atau kata lain, bukan film LATAH, yang hanya mencari popularitas aja. Kenapa saya bilang film latah, karena udah kebukti, banyak banget film horror dan drama cinta abg yang apa lagi kalo saya bilang, bukan dibilang film latah!
By the way, kita patut berterima kasih juga sama film Jelangkung. Karena film Jelangkung, sekarang ini banyak yang akhirnya mengikuti jejaknya untuk membuat film horror (Oh no…!). kenapa ga ada yang ngikutin jejaknya film Gie, Arisan!, Long Road To Heaven, KALA dan Berbagi Suami, yah…?
Maka dari itu, Dunia Film Indonesia sekarang ini harus sudah saatnya untuk bisa membuktikan diri, kalau ga hanya film latah aja yang bisa diandalkan untuk dipromosikan. Tapi nilai kreatifitas dan originalitas harus juga diutamakan. It’s time to Think Globally, but we Act Locally.
Andaikan Indonesia sudah bisa seperti Amerika. Industri Perfilman di Amerika adalah asset yang patut dibanggakan, karena menjadi penunjang devisa Negara dan ekonomi negara urutan ke-2. Dan Industri perfilman di Amerika merupakan lahan pekerjaan yang menjajikan dan sangat diidam-idamkan oleh semua masyarakat Amerika dan dari belahan negara manapun juga, yang memang mempunyai kemampuan untuk bekerja di dunia film. Makanya ga heran, seorang Tom Cruise yang ga pernah beres di sekolahnya tapi menjadi tokoh panutan kebanyakan orang dan actor yang paling banyak penggemarnya mulai dari anak abg sampe ibu-ibu rumah tangga. Siapa sih yang ga mau punya mantu sekeren Tom Cruise?








































