Thursday, April 26, 2007

Naga Bonar Jadi 2


“ Apa Kata Dunia…!”

Quote diatas adalah merupakan salah satu dari apa yang sering dikatakan oleh Sang Naga Bonar di film-nya yang pertama keluaran tahun 1986, yang pada tahun 1987 berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Film Terbaik dan Deddy Mizwar juga berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Pemeran Pria Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 1987. Siapa sih, yang ga tau Film NAGA BONAR waktu itu…? Film yang skenarionya ditulis oleh Asrul Sani (Almarhum) dan disutradari oleh Deddy Mizwar, yang juga pernah menyabet predikat sebagai Film Yang Paling Laris di tonton dan Dengan Jumlah Penoton Terbanyak pada masa itu, diperankan oleh Deddy Mizwar dan Nurul Arifin. Dan akhirnya, di tahun 2007 ini pun kita dapat membuktikan sendiri kalo quote diatas sangatlah melengenda lewat film terbaru arahan Deddy Mizwar sendiri sebagai Sutradara di filmnya yang fenomenal, NAGA BONAR JADI 2.
As we know, di film tersebut menceritakan kalo Naga Bonar adalah dulunya Pencopet ulung, yang akhirnya diangkat menjadi seorang Jendral pada masa Perang kemerdekaan Indonesia. Namun di film Naga Bonar jadi 2 ini, peran yang banyak diberikan sebenarnya terletak pada tokoh Bonaga. Anak yang sangat berbakti kepada Orang Tua-nya dan ga akan pernah hilang rasa cinta dan kasih sayangnya, jujur, bertanggung jawab walau dia masih ada kesamaan karakter dengan bapaknya, yaitu masih malu-malu untuk menghadapi dan menyatakan cinta dengan wanita pujaannya. Karakter ini sama dengan sang bapak yang duunya pun begitu ketika menyatakan cinta kepada Kirana, yang di sequel-nya kini sudah meninggal dunia. Walau Bonaga hidup dan tinggal di kota besar dan merupakan salah satu refleksi dari tipe pria metroseksual, modern, dinamis dan pintar juga pernah sekolah dan kuliah di Inggris dan menjadi salah satu anak muda yang berprestasi di Ibukota, juga menjadi eksekutif muda dan pengusaha paling kaya dan pintar dari Medan di Jakarta.
Jujur aja, saya sangat ga sabar buat pengen buru-buru nonton film ini, karena selain ingin liat paduan acting Tora Sudiro yang berperan sebagai Bonaga, anak dari Naga Bonar yang tetap diperankan sama Deddy Mizwar dalam satu frame. Apa Tora bisa mengimbangi peran tersebut atau tidak? Sepintas, dari awal film dimulai, karakter seorang dengan darah batak yang sangat kental tidaklah hilang drai sosok Deddy Mizwar. Dari segi kepolosan dalam hal berpikir yang dialaminya di zaman yang sudah modern dan juga tidak menghilangkan apa yang dia dapat dan dia alami di masa lalu dia sewaktu masih berperang.
Wajar aja, kalo menurut sumber di Ibukota, kalo NAGA BONAR JADI 2 menjadi The Anticipated Movie of 2007 alias film yang paling ditunggu untuk ditonton sama para penggemar Film Indonesia.
Satu sisi, emang banyak banget peran yang terjadi di film sequel-nya ini. Kita bisa diharu biru bahkan juga tertawa terbahak-bakah dengan karakter dan peran Naga Bonar dan Bonaga, tapi juga ga lepas dari karakter pendukung dari Wulan Guritno juga Lukman Sardi, yang kalau aku bilang sih, peran Lukman Sardi justru yang paling bagus dan natural kalau dibandinkan lakon Tora Sudiro. Peran yang dilakukan oleh dia lebih kena ke jiwa dan banyak pelajaran yang didapet dari perannya. Seperti hal agama, kedewasaan dan kesederhanaan namun bisa menjadikan semuanya berarti dan dihargai, bahkan oleh orang yang mampu/kaya sekalipun. Sepintas, emang karakter-karakter lucu nan kocak ga lepas tetap dari semua scene. Film ini banyak banget pesan moral yang disampaikan dari sang Penulis Skenario, Musfar Yasin. Beliau mungkin sengaja memasukan karakter yang mengandung banyak pesan moral di film ini. Seperti contoh, ketika Naga Bonar ga habis-habisnya melakukan suatu tindakan yang merupakan satu bentuk rasa cinta dia kepada Tanah Air Indonesia, dikarenakan dia adalah veteran perang zaman kemerdekaan. Seperti yang dia lakukan dengan meminta Umar (Lukman Sardi) untuk berkeliling Jakarta dan akhirnya sempat mempir dan memberi hormat di Patung Bung Karno – Bung Hatta, juga dia dengan perasaan haru biru, meminta kepada jendral Sudirman untuk menurunkan tangannya dari posisi menghormat (padahal, itu hanya Patung jendral Sudirman yang terletan di tengah-tengah marka jalan di Jalan Sudirman Jakarta), dan dia ga henti-hentinya menghormat kepada Sang Jendral tersebut. Juga sewaktu diadakan upacara bendera di lapangan, dia ga akan turunin tangan dari posisi menghormat ke Bendera Merah Putih sebelum Sang Bendera akhirnya sampai ke ujung tiang. Sampai akhirnya dia pun kecapaian dan ditahan oleh anak-anak kecil agar posisinya tetap berdiri tegak menghormat Sang Merah Putih.
Cuman ada yang aneh sedikit bagi saya sewaktu fokus nonton film ini. Kejadian Naga Bonar di film pertamanya kan terjadi dengan setting tahun 1945-an. Nah, berarti umur dia sewaktu itu kan mungkin kisaran 20 tahunan. Dan di film sequelnya, dia sudah memiliki anak (Bonaga) yang mungkin berumur kisarah 28-30 tahunan. Seharusnya, kalo diitung-itung, di sequelnya, Naga Bonar harusnya sudah sangat tua sekali, mungkin kisaran umur 80 tahuan dan Bonaga harusnya ga berumur segitu, tapi mungkin udah kisaran 50 atau mendekati 60 tahuan. Karena settingnya sendiri yang sangat memungkinkan dan keliatan banget tahun 2006. dengan didukung dengan banyaknya gadget yang sudah ada sekarang di film itu, yang… sudah pasti itu pun sebenarnya satu ajang promotional bagi suatu brand.
Satu lagi kejanggalan yang didapet, saya sangat keganggu dengan highlight alias membuat rambut Deddy Mizwar terlihat seperti sudah beruban. Highlight yang dibuat kok kayak highlight-nya anak muda sekarang, yah…? Coba kalian perhatiin lebih detail lagi dan bedakan dengan kalo rambut orang manula (uban) dengan highlight di salon! Trus, waktu adegan Bonaga dan Naga Bonar tiba di bandara, dan dijemput sama 3 orang teman Bonaga. Awalnya, peran si Jaki (Mike Muliadro) tidak memakai t’shirt putih sebagai rangkepan kemeja dan jas dia, sehingga (maaf) bulu dada dia sedikit terlihat. Namun hanya dengan beda scene beberapa detik saja, dia sudah dalam keadaan memakai t’shirt putih sebagai rangkepan, sehingga bulu dada dia tidak terlihat lagi. Ada lagi nih, waktu Bonaga pulang dari apartemen Monita karena disuruh bapaknya untuk menyatakan cinta, dan dia masuk ke rumah dengan tampang masam walo dicecar banyak pertanyaan sama sang bapak, t’shirt putih Bonaga dalam keadaan tidak dimasukan kedalam celana. Tapi hanya beda mungkin 2-4 detik, ketika dia akan masuk ke kamarnya setelah menaiki tangga, keadaan t’shirtnya bagian depanya sudah dalam keadaan dimasukan kedalam celana sedikit, sehingga gesper ikat pinggangnya terlihat. Selain itu, Tora Sudiro masih kurang logat Batak-nya. Malah logat Jawa-nya yang keliatan kental. Walo emang sih, dengan anggapan sudah terkontaminasi dengan kehidupan modern dan apalagi sudah pernah tinggal di Inggris. Tapi setidaknya, kalo mau dapetin Piala Citra lagi kan harusnya bisa lebih matang lagi latihan dengan berdialek logat Batak, hehehehe…
Tapi yah… Over all, semua karakter dan peran juga scene di Naga Bonar Jadi 2 ga hilang dan berkurang dengan adanya sedikit mistakes diatas, yah!
Bagi saya, tetap harusnya Industri Perfilman Indonesia itu berjaya dengan film-film yang ber-genre seperti ini. Ga hanya didominasi horror, percintaan anak sma, dan peran-peran abg lagi yang sebagain besar emang konsumsinya akhirnya buat kalangan abg lagi. Orang Indonesia secara umum layak dapet hiburan dari bentuk film yang layak ditonton untuk semua umur dan kalangan. Terutama ide-ide scenario yang orisinal dan berdaya jual tinggi. Ga hanya sebatas untuk kelas abd, horror, dan sebagainya. Berbentuk sequel lagi pun tidak masalah, asalkan itu bisa mewarnai kancah perfilman Indonesia yang beragam. Saya sangatlah kangen dengan film-film kolosal Indonesia semacam Tjoet Nyak Dien, dll. Andaikan satu hari nanti, ada satu ide keluar dari kepala para penulis Indonesia yang bercerita tentang Perang Diponegoro, Kisah Legenda Sangkuriang, Kisah Perjuangan yang di film-kan, atau cerita-cerita lainnya yang mungkin masih banyak dan layak difilmkan secara menghibur.
Bagi saya, kebangkitan Film Indonesia sudah ditandai dengan keluarnya film-film semacam Arisan, Petualangan Sherina, Berbagi Suami, janji Joni, Gie, Naga Bonar Jadi 2 dan yang akan keluar bentar lagi, Kala. Bagi saya, film-film horror dan thema percintaan remaja sma hanya intermezzo aja dan bukan dikategorikan sebagai tanda kalo film Indonesia sudah bangkit lagi. Justru karena film-film dengan genre horror dan anak sma itulah yang bisa menurunkan lagi Perfilman Indonesia. Dinilai, kalo Indonesia ga kreatif, monoton dan ide-idenya untuk film mentok di situ-situ aja. Gimana mau maju kalo ga ada perubahan dan tingkat kreatifitas yang lebih diutamanin dan bukan hanya sekedar latah atau plagiat. Saya sebagai Warga Indonesia sangatlah mendukung Film Indonesia sendiri.
Sudah saatnya, Indonesia bisa lebih maju dalam hal Perfilman. Kali-kali lah, film Indonesia bisa masuk salah satu kategori Academy Award. Ga hanya bisa sampe di Submissions aja, seperti film Berbagi Suami dan Ca-Bau-Kan karya Teh Nia diNata, trus lagi ada Daun Di Atas Bantal karya Garin Nugroho.

No comments: